rafijaya75@gmail.com

Jumat, 13 Januari 2017

Menelusuri Jejak Wali Makam Syeh Maulana Maghribi (Parangtritis Yogjakarta)

Menelusuri Jejak Wali
Makam Syeh Maulana Maghribi
(Parangtritis Yogjakarta)
..
Bersebelahan dengan pantai yang sangat familiyar di telinga kita, yaitu pantai Parangtritis yang menyimpan sejuta misteri ketika bermain ke pantai tersebut, namun siapa sangka dan tidak banyak orang mengetahui akan keberadaan makan mawaliyuwullah yang berada di sekitar pantai Parangtritis.
.. 
Dari Ketinggian bukit sekitar area makam tersebut secara lepas kita dapat menikmati pemandangan Pantai Parangtritis dan juga Pantai Parangkusumo.

Terletak diatas bukit dekat dengan pantai Parangtritis yakni tepatnya di deretan perbukitan Parangtritis berada di dusun Pemancingan, Prangtritis, Kretek, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
..
Syekh Maulana Mahribi merupakan seorang saudagar Arab yang rajin menyebarkan agama islam disetiap tempat yang disinggahinya namun kebanyakan orang mengenal Syekh Maulana Mahribi merupakan keturunan dari Syekh Jumadil Qubro yang berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia tengah dan masih merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW.
..
Makam Syekh Maulana Mahribi sendiri terdapat dibanyak tempat seperti Cirebon, Jatinon, Klaten dan Gresik, serta Yogyakarta ini namun jasadnya sendiri disemayamkan di gresik sedangkan makam yang lain sebenarnya merupakan tempat petilasan yang pernah dipakai Syekh Maulana Mahribi selama menyebarkan agama Islam di Nusantara ini. Karena makam bagi orang jawa merupakan sebagai tanda dimana mereka mengungkapkan doa doa mereka kepada yang Maha Kuasa.
..
Pintu masuk ke makam Syek Maulana Mahribi ditandai dengan adanya Gapura yang menyerupai candi bentar namun pada atasnya terdapat tenggara berupa tulisan Makam Syekh Maulana Mahribi. Kemudian harus menaiki tangga yang cukup panjang untuk menuju ke makam tersebut, seolah tangga tersebut tak berujung jika dilihat dari bawah. Pada tangga ini ditengahnya dilengkapi dengan pagar pembatas yang dapat dipakai sebagai pegangan.
..
Begitu memasuki area makam nampak sebuah cungkup yang tertutup tembok keliling dengan sebuah pintu kayu bercat hijau. 
..
Alamat: 
Dusun Pemancingan, Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. 
Lokasi GPS: -8.01961, 110.32695, Waze. Jam buka 24 jam. 
Harga tiket masuk gratis. 
Tempat Wisata di Bantul lainnya, Peta Wisata Bantul, Hotel di Yogyakarta.
 ..
Begitu bahaginya diri ini jika mengenal dan dekat dengan wali Allah SWT.

..


















sumber ; Mohamad Rauf (facebook)

FILOSOFI LABA-LABA DALAM KEPEMIMPINAN

FILOSOFI LABA-LABA DALAM KEPEMIMPINAN
(Renungan dalam memilih pemimpin) Fenomena kehidupan laba-laba sangat menarik untuk kita kaji, kehidupan seekor laba-laba memiliki keunikan berikut ini :
1. Laba-laba selalu "Kerja, Kerja dan Kerja"
Sewaktu kita sedang menatap interior rumah atau sewaktu terpaku pandang pada sebatang pohon, mungkin ada beberapa laba-laba yang membuat sarang di sana. Kemudian jika tergerak hati kita untuk membersihkan atau mungkin juga iseng untuk merusak sarang laba-laba tersebut. Kemudian coba perhatikan apa yang dikerjakan oleh laba-laba setelah sarangnya hancur? Ternyata laba-laba membuat kembali sarang barunya di tempat yang sama. Berapakalipun manusia merusak sarangnya, sebanyak itulah laba-laba dengan penuh semangat bekerja tak kenal lelah untuk memperbaiki dan membuat sarang baru. Melihat perangai laba-laba tadi, mengajarkan kepada kita untuk tidak kenal lelah dan tidak kenal putus asa, seandainya dalam hidup ini kita mengalami kegagalan sehingga tidak mengeluh dan putus asa, bangkit lagi untuk berjuang lebih giat menghadapi dan mengurangi potensi kegagalan yang menghadang. Ingat kegagalan adalah bagian kecil dari proses menuju sukses dan tidak ada kesuksesan yang tercipta tanpa sebuah kegagalan. Jadikan kegagalan sebagai awal introspeksi diri dan bekerja lebih keras.
..
2. Laba-laba memiliki "egoisme sektoral"
Laba-laba dengan filosofi hidupnya hanya berfikir dan berbuat untuk kepentingan dan kesenangan dirinya saja. Dia membuat sarang berupa jaring-jaring untuk memperdaya dan menangkap hewan lain untuk makanannya. Yang dia pikirkan hanya dirinya saja dan dia tidak perduli dengan nasib hewan lainnya. Orang yang berbudaya seperti laba-laba sangat merugikan orang lain dan tidak mensyukuri nikmat yang telah didapatkannya, ia tidak lagi berpikir tentang sekitarnya dan mereka tidak lagi membutuhkan berpikir apa, siapa, kapan, dan di mana. Apa yang ia pikirkan hanyalah untuk kepentingan dan kesenangan pribadi.
..
3. Jaring Laba-laba merupakan "model Networking Management" 
Sistem jaring-jaring rancang bangun sarang laba-laba mengilhami manusia untuk membangun Networking Multilevel Marketing dan strategi militer. Networking Multilevel Marketing mengambil i’tibar dari dari laba-laba karena sarang laba-laba identik dengan jaring-jaring keagenan (jaringan pemasaran) yang menyatu dan saling menguatkan satu sama-lainnya. Hal ini mengandung pengertian bahwa suatu kegiatan usaha bersifat berkesinambungan dan terpadu, harus dapat tercipta-tumbuh dan terpelihara. Strategi militer juga mengadopsi prinsip jaring laba-laba (spidernet). Pemimpin berada di tengah atau pusat organisasi jaringnya. Apabila ada hambatan, ancaman dan gangguan terhadap eksistensi organisasinya, getaran dari si pembuat masalah terasa sampai kepada sang pemimpin yang selanjutnya turun langsung menuju pusat gangguan untuk mengamati seberapa besar masalah yang ada dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Apabila si pembuat onar tadi sampai merusak jaring organisasi maka sang pemimpin beserta kesatuannya akan berusaha memperbaikinya seperti sediakala. Dalam strategi militer, kalau ada ancaman terhadap organisasi diselesaikan di kesatuan. Jika tidak memungkinkan, baru meminta bantuan dari kesatuan lain dan bersama-sama menghadapinya.
..
4. Laba-laba contoh "model Kepribadian Mudah Panik dan Kalang-kabut" 
Naluri laba-laba menganggap bahwa hewan lain selain dirinya adalah musuh sekaligus mangsa untuk makanan dirinya. Begitu ada hewan lain yang mendekat ke sarangnya dia terlihat pontang-panting panik bergerak ke segala arah. Orang yang menganggap orang lain sebagai pesaing bagi target/cita-cita pribadinya dan bukan sebagai mitra kerja, akan selalu dalam posisi khawatir orang lain akan mengganggu keberhasilan pencapaian target/cita-citanya. Dia akan pontang-panting bergerak ke segala arah mencari keyakikan dan ketenangan diri bahwa target/cita-citanya tidak terganggu. Tindakannya kalangkabut laksana seperti seekor laba-laba. (Catatan penulis: Kalangkabut merupakan kata serapan bahasa Arab : Kaal-ankabut=seperti laba-laba).
...
5. Jaring Laba-laba "Indah Tapi Rapuh"
Allah menjadikan laba-laba sebagai contoh dalam Al Qur’an, bukan karena laba-laba binatang yang istimewa sepertihalnya semut atau lebah, melainkan karena laba-laba merupakan binatang yang lemah dan bodoh. Laba-laba membuat sarang (rumah) yang terbuat dari benang halus untuk melindungi dirinya dari panas dan dingin serta untuk menolak penderitaan bagi dirinya. Akan sang laba-laba tidak mengetahui kalau rumahnya yang berupa jaring-jaring itu meski terkesan sangat indah dilihat tapi sangat rapuh, dan ternyata tidak dapat melindunginya dari kesengsaraan ketika ia membutuhkannya. Sebagaimana disebutkan Qur’an Surah Al-Ankabut Ayat 41, Allah memberikan perumpamaan itu berkaitan dengan kebodohan orang-orang musyrik yang menjadikan berhala dan patung sebagai sesembahan dan penolong bagi mereka. Padahal, berhala dan patung itu sama sekali tidak dapat menolong mereka. Maka, Allah menyamakan kekurangan dan kelemahan orang-orang musyrik dengan laba-laba dalam mencari pelindung untuk dirinya. Orang-orang musyrik dan laba-laba sama-sama bodoh di dalam membuat pengaman dan pelindung untuk dirinya, karena pelindung yang diharapkan dapat melindungi mereka ternyata tidak dapat diandalkan. Dari uraian di atas dapat diambil suatu pelajaran:

  • Seorang pemimpin harus memberi teladan, memberi semangat dan membimbing ke arah keberhasilan pencapaian tujuan organisasi. 
  • Jadilah pemimpin yang ditaati karena disegani, bisa sesenyum setangis bersama bawahan sehingga timbul saling pengertian, saling memiliki dan saling bertanggungjawab untuk bergerak maju bersama menuju keberhasilan organisasi. 
  • Jadikan Allah SWT sebagai satu-satunya pelindung dan penolong dalam kehidupan kita agar hidup mendapat Ridho dan Baroqah-NYA

copyright fb : Mohamad Rauf
http://alankkabuut.blogspot.co.id/p/penjelasan-surat-al-ankabut.html